|
Pada hari Senin tanggal 23 April 2012, Museum Rekor Dunia - Indonesia (MURI) menyelenggarakan Peringatan Ulang Tahun ke-22 di Jakarta yang dibuka oleh Wakil Menteri bidang Kebudayaan Dr. Windu Nuryati, mewakili Menteri Pendidikanndan Kebudayaan yang berhalangan hadir. Acara peringatan ini ditandai dengan penyerahan penghargaan Anugerah Kebudayaan MURI oleh Ketua Umum MURI kepada beberapa tokoh untuk kepeloporan di berbagai bidang. Di antara yang mendapat anugerah adalah Ibu Linda Agum Gumelar (Menteri UPWPA), Ibu Tisna Jero Wacik, Sutiyoso (Mantan Gubernur DKI), Jokowi (Walikota Solo), Nurmahmudi (Walikoya Depok) dan Peni (Walikota Malang). Termasuk yang mendapat anugerah adalah Luluk Sumiarso, Pembina Puspo Budoyo, yang diberi anugerah kebudayaan MURI karena kepeloporannya dalam pelestarian dan pengembangan Ketoprak.
Sebagaimana diketahui, semula pertunjukan ketoprak merupakan totonan kelas menengah ke bawah. Di masa lalu, kita semua mengenal kejayaan Ketoprak Siswo Budoyo yang sering melakukan pertunjukan keliling di berbagai kota dengan tobongnya yang megah. Siswo Budoyo kemudian meredup seiring dengan perkembangan jaman. Kemudian muncul Ketoprak Humor yang sempat merajai siaran salah satu stasiun TV Swasta, namun kemudian siarannya terhenti. Aris Mukadi, mantan Sutradaranya kemudian pergi ke Luluk Sumiarso, Pembina Puspo Budoyo, karena banyak mantan pemain ketopraknya yang sekarang tidak mendapat job. Puspo Budoyo kemudian bekerjasama dengan Kelompok "Gnaro Ngalam" (Kumpulan Warga Jakarta yang berasal dari Kota Malang) menyelenggarakan Pagelaran Ketoprak Banyolan dengan cerita "Ken Arok Ken Dedes, mBahe Gnaro Ngalam". Ketika diundang untuk menyanyi bersama Menteri Pemuda dan Olah Raga Adyaksa Dault dan Benny Pasaribu pada acara "Tokoh Berdendang" yang disiarkan langsung oleh Stasiun TVRI dari Lantai 2 Gedung Wisma Nusantara, Luluk dan Isteri mendapat inspirasi untuk mengajak tokoh-tokoh main ketoprak, sehingga jadilah "Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo", suatu pagelaran ketoprak dengan menampilkan cerita sejarah dengan guyonan terkini, yang dimainkan oleh para tokoh dari berbagai bidang, bersama para artis profesional dan eks pemain Ketoprak Humor dan Seniman Bharata, dan berbagai bintang tamu (lawak) seperti Eko DJ, Marwoto, Kirun, yatie Pesek dan Ciblek. Diantara tokoh-tokoh yang bersedia main ketoprak antara lain adalah Bapak Agum Gumelar (Ketua KONI/Mantan Meteri Perhubungan/Mantan Menko Polkam), Prof. Remy Syachdeini (Ketua Pengawas Bank Indonesia), Parni Hadi (Direktur Utama RRI), Suprawito (Mantan Walikota Jakarta Utara), Tjuk Sukardiman (Mantan Dirjen Perhubungan Laut), Margiono (Boss Rakyat Merdeka) dan Ratna Listy. Pagelaran dilaksanakan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada tanggal 20 Mei 2007, dengan mengambil cerita "Warok Suromenggolo: Suminten 'Ratna Listy' Edan", yang ternyata mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat yang memenuhi Gedung Kesenian Jakarta. Sejak itu, diselelenggarakan pagelaran demi pagelaran, yang diikuti para tokoh dari berbagai bidang, yaitu perbankan, media, migas, farmasi, artis, perguruan tinggi, pemeritah daerah dan artis. Para tokohpun yang ikut main bervariasi, mulai Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Ashidiqi, Menteri Kominfo Muhammad Nuh, Menteri Kesehatan Endang, dan mantan Menteri Pariwisata dan Seni Budaya Marzuki Usman sampai Deputi Gubernur BI Miranda Gultom dan Budi Rochadi. Staf Khusus Presiden yang pernah ikut main adalah Yeni Wahid dan Heru Lelono. Gubernur yang ikut main adalah Gubernur DKI Sutiyoso dan Gubernur Jawa Timur Sukarwo. Rektor yang pernah ikut main adalah Rektor ITB Djoko Santoso dan Rektor UI Gumelar Somantri. Berbagai pejabat eselon I berbagai kementerian, serta dirut BUMN, seperti Dirut PT Telkom Rinaldi, Dirut PLN Dahlan Iskan dan Dirut BULOG Sutarto Alimuso juga ikut. masih banyak lagi direksi berbagai BUMN dan serta tokoh- tokoh yang lain. Tokoh yang ikut mainpun tidak hanya berasal dari Etnis Jawa, tetapi juga Sunda, Aceh, Batak, Ambon, Padang dll. Sampai dengan akhir tahun 2011 telah diselenggarakan 50 kali pagelaran, diikuti lebih dari 700 tokoh masyarakat. Selain ketoprak, juga digelar Wayang Orang Canda dan Ludruk Nostalgia serta Lenong. Pagelaran Emas (ke-50) diselenggarakan di The Hall Senayan City dengan menampilkan cerita "Adeging Nagari Indonesia", yang dihadiri oleh Putri Proklamator Halida Hatta. Karena yang main adalah para tokoh, maka kolega tokoh dan famili dari tokoh yang main jadinya ikut nonton. Ketoprak yang semula merupakan tontonan masyarakat menengah ke bawah, berhasil terangkat menjadi tontonan kelas menengah ke atas, digelar di tempat-tempat bergengi seperti Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Gedung Graha Bhakti Budaya TIM, Teater Balai Kartini, Auditorium TVRI Jakarta, Auditorium RRI Jakarta, Auditorium PLN Pusat, dan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung. Bahkan pada pagelaran ke-42 yang diselenggarakan di GKJ dengan cerita "Merah Putih Mencegah Perang", Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani SBY berkenan menyaksikan bersama beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Tidak hanya sampai di situ. Luluk sekarang sedang menyiapkan "Museum Ketoprak" yang akan merupakan bagian dari "Museum Seni Tradisi" di Rumah Budaya Nusantara "Puspo Budoyo", Ciputat, Tangerang Selatan. Semoga semua upaya ini membawa arti bagi pelestarian dan pengembangan seni ketoprak di tanah air dan memberi motivasi para sponsor dan filantropis untuk mendukung pagelaran ketoprak di hari-hari mendatang. |